Situs Gedong Putri Bukti Kekuasaan Raja Wanita di Negara Lamajang

Bookmark and Share


Bukti Fisik Situs Gedong Putri




Situs Gedong putri berada di posisi 8 10’24,9” Lintang Selatan dan 113 4’40,2” Bujur Timur. Ketinggian permukaan situs 360 meter dari permukaan laut. Situs ini terletak di Dususn Gedong Putri, Desa Klopo Sawit, Kecamatan Candipuro. Situs ini terletak bekas sapuan lahar Gunung Semeru pada sisi Tenggara, sehingga kondisi Situs yang berserakan dan rusak. Struktur batu bata bekas bangunan yang berserakan, Lumpang batu, umpak batu dan 7 lempeng batu andesit berbentuk persegi panjang yang dipahat diperkirakan sisa struktur bangunan pintu suatu pemukiman kuno. Yoni yang terletak di sisi Barat Laut kompleks Candi Gedong Putri dengan jarak sekitar 50 meter di lahan persawahan. Pada lubang Yoni tertancap Lingga yang telah rusak bagian atasnya akibat pengrusakan masyarakat.



Luas tumpukan batu bangunan Candi Gedongputri 11 m X 7,5 m, unsur bangunan yang masih tersisa yaitu : 1. Ambang pintu yang berukuran 60 X 35 cm, tebal 19 cm, beserta lubang engsel dengan diameter 9 cm dan dalamnya 9 cm, serta lubang pasak yang berbentuk persegi yang pasaknya telah patah 2. Sebuah ambang pintu pintu yang masih utuh dengan ukuran 110 X 40 cm, tebal 20 cm, diameter lubang engsel 8 cm, dan dalam 14 cm serta lubang pasak ukuran 13 X 8 Cm dan kedalaman 7 cm, dengan lebar jalan masuk 80 cm 3. Terdapat 5 buah lempeng batu andesit dengan masing-masing ukuran (1) 128 X 49 cm tebal 23 cm, (2) 77 x 45 cm tebal 20 cm, (3) 96 X 46,5 cm tebal 22 cm, (4) 87 X 33 cm tebal 20 cm, (5) 84 X 40 cm tebal 22 cm.



Yoni berukuran tinggi 64 cm dan lebar 63 x 63 cm, sedangkan bagian tengah adalah 42 cm, lubang tempat lingga berukuran 17 cm, sedangkan ukuran cerat 24 x17 cm, tebal 17 cm dan llubang saluran air 2,5 cm. Berhias motif pahatan Naga pada bagian kaki Yoni. Bagian kepala Naga yang sdh hilang dan bagian badan Yoni dan Lingga bekas dirusak masyarakat, sehingga kita tidak lagi dapat melihat bentuk aslinya.



Lumpang batu berukuran diameter 14 cm kedalaman 13 cm. Umpak batu berukuran tinggi 30 cm panjang 30 cm dan lebar 25 cm.



Sejarah Situs Gedongputri



Situs Gedongputri ditemukan oleh pencari kayu pada tahun 1897 dengan luas areal 180 m2, kondisi lingkungan yang masih berupa hutan belantara. Tahun 1904 terdapat banjir lahar dingin Gunung Semeru sehingga banyak unsur bangunan yang hanyut.




Tetapi menurut Pak Goenadi Nitihaminoto apabaila dilihat dari lingkungan Candi yang rusak parah dan banyaknya batu-batu besar yang terdapat di areal Candi berasal dari letusan Gunung Semeru, Letusan Gunung Semeru tertuadari tahun 1600,kemudian beberapa letusan lagi terjadi pada tahun 1885, 1895, dan 1941. Atas dasar itulah diperkirakan Candi Gedongputri hancur sebelum tahun 1600 dan ditambah letusan yang berulang menjadikan semakin hancurnya Candi tersebut (Titi Surti Nastiti, 1995).



Situs Gedongputri berdasarkan dari toponimnya diperkirakan pemukiman yang dihuni oleh seorang putri, sedangkan perkiraan batu bata yang lebih tua usianya dari pada temuan batu bata yang terdapat di Lumajang bagian timur. Asumsinya bahwa pemukiman di Lumajang bagian barat berkembang masa sebelum Kerajaan Lamajang masa kekuasaan Arya Wiraraja yaitu diperkirakan Lamajang dalam kekuasaan Kerajaan Singhasari, kemudian dihubungkan dengan prasasti Mula Malurung yang dibuat masa Raja Nararyya Seminingrat berangka tahun 1255.



Prasasti Mula Malurung menyebutkan pada lempeng VIIa baris 1-3 yaitu :



1. ,…siro nara



2. ryya kirana saksat atmadja nira nararyya sminingrat pinratista juru lamajang, pinasangaken jagat palaka, ngka




3. ning nagara lamajang



Artinya :



1.,…Beliau Nararyya



2. Kirana semata-mata putra beliau Nararyya Sminingrat, ditetapkan sebagai juru di Lamajang, dipasangkan menjadi pelindung dunia



3. Di Negara Lamajang




Nama “Kirana” yang identik dengan wanita sehingga asumsi saya sangat berhubungan dengan Situs Gedongputri. Sedangkan perkiraan awal ibukota Lamajang masa kekuasaan singhasari adalah antara sekitar wilayah Candipuro, Pasrujambe, Senduro dan Gucialit yang merupakan bekas kota kuno.



Peninggalan Lingga Yoni simbol dari Yoni (wanita) dan Lingga (Laki-Laki) adalah lambang kesuburan di suatu tempat pemujaan yang merupakan pemukiman di sekitar pertanian. Lingga Yoni yang berhias Altar Naga identik dengan penghuni wilayah tersebut memiliki status sosial yang tinggi atau golongan bangsawan.



Asumsi Pribadi



Suatu Situs purbakala apabila berkembang di masyarakat nama Gedong Putri pasti nalar kita akan berkata bahwa pernah ada seorang Raja Wanita yang berkuasa di Negara Lamajang yang termasuk dalam negara Vasal masa Kerajaan Singhasari.



Bagi saya apabila terdapat bukti yang mendukung bahwa baik Raja Wanita atau laki-laki beliau-beliau di masa itu memiliki kedudukan yang sama, dan tidak bisa dianggap remeh karena seseorang apabila di tasbihkan sebagai raja pastilah memiliki kemampuan dan kecerdasan yang luar biasa.



Nama Kirana artinya bulan ( feminis ) yang saya sudah sering kemukakan bahwa lebih identik dengan nama Wanita, dan dihubungkabn dengan keberadaan Candi Gedong putri yang diperkirakan pemukiman atau hunian para bangsawan bahkan merupakan bekas Kota kuna bisa saja juga merupakan pusat Kekuasaan Kerajaan Vasal di masa Kekuasaan Singhasari.




yang menjadi pertanyaan Mengapa Candipuro dijadikan Pusat kekuasaan?



Lamajang atau Lumajang adalah wilayah yang rawan akan bencana, dengan bukti peninggalan yang rusak berat karena terjangan lahar dari Gunung Semeru dan Wilayah Selatan yang yang rawan akan bencana Tsunami sehingga penguasa dahulu memilih wilayah dataran tinggi sebagai pusat kekuasaannya selain itu akses yang sangat dekat dengan wilayah kerajaan Singhasari sebagai Kerajaan induknya. Selain itu dataran tinggi sangat strategis untuk memantau ancaman-ancaman yang terdapat di bawah juga dapat memantau semua kegiatan dari atas, contohnya Keraton Ratu Boko



Tetapi memang akan jadi polemik tentang status penguasanya dan pemilihan wilayah kekuasaannya, kembali lagi mengapa tidak….Wallahualam

( Aries Purwantiny).