KEPULAUAN NUSANTARA

Bookmark and Share


Bentangan alam
Nusantara adalah kata lain dari Indonesia. Kata Nusantara lebih di artikan untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sumatera sampai Papua.
Gugusan pulau-pulau ini membentang dari barat sampai ke timur. Pulau-pulau yang besar terlihat dengan jelasnya, tapi ribuan pulau yang kecil terlihat seperti nohtah yang tah habis-habisnya. Bertebaran, seperti bintang yang bertaburan di langit malam. Lautnya yang biru di bagian selatan, ombaknya yang besar, hasil dari deburan gelombang Samudera Hindia yang membentang sampai daratan Australia. Gelombang ombak yang tidak begitu ramah bagi para nelayan. Sedangkan disisi utara, ombak sahabat nelayan, hasil dari sentuhan air laut Samudera Pasifik. Dan tidak jarang sentuhan air Laut Cina Selatan sampai pada pulau-pulau terluar.
Angin yang bertiup berganti arah tiap setengah tahun. Angin basah musim barat daya, bertiup antara oktober sampai april menjadikan musim penghujan. Sedangkan bulan april sampai oktober bertiup angin musim timur laut yang bersifat kering, yang menjadikan kepulauan ini mengalami musim kemarau. Dua musim yang menjadi andalan para nelayan dan petani dalam mengolah alam untuk mencari penghidupan.
Hutan yang hijau, yang membujur dari Aceh hingga Papua adalah paru-paru dunia yang harus dijaga dan dilestarikan. Hutan hujan tropis yang subur adalah hutan belantara yang banyak terdapat di Sumatera dan Kalimantan. Belantara yang lebat, karena berada di sekitar garis khatulistiwa yang mempunyai curah hujan yang tinggi. Hutan bakau sebagai penangkis erosi, yang menahan daratan, semenanjung dan teluk dari gelombang pasang. Hutan yang banyak di jumpai di pulau Jawa, di pinggir pantai yang berlumpur. Sedangkan hutan sabana yang berada di Nusa Tenggara, merupakan hutan yang banyak ditumbuhi rumput dan ilalang karena curah hujannya yang sangat rendah.
Pegunungan yang ada, berada di pulau-pulau besar. Di Jawa ada pegunungan kendeng, pegunungan kapur utara dan pegunungan sewu. Tiga pegunungan ini membujur dari sisi tengah Pulau Jawa ke bagian timur. Pegunungan di Pulau Kalimantan meliputi : Pegunungan Kapuas Hulu , Pegunungan Muller, Pegunungan Schwaner dan Pegunungan Meratus. Sedangkan di Papua ada Pegunungan Foja, Pegunungan Jayawijaya dan Pegunungan Mauke. Pegunungan di Papua ini menjadi sangat istimewa karena pegunungan Jayawijaya juga merupakan satu-satunya pegunungan dan gunung di Indonesia yang memiliki puncak yang tertutup oleh salju.
Kepulauan ini, Indonesia, adalah negara yang berada di persilangan jalan antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, lebih tepatnya antara Teluk Benggala dan Laut Cina Selatan. Dengan diapit benua Asia dan Australia menjadikan negara ini sangat srategis. Dilihat dari sisi astronomi, Indonesia terletak pada daerah tropis yang memiliki curah hujan yang tinggi sehingga banyak jenis tumbuhan yang dapat hidup dan tumbuh dengan cepat. Dari sisi geologi, Indonesia terletak pada titik pergerakan lempeng tektonik sehingga banyak terbentuk pegunungan yang kaya akan mineral. Daerah perairan Indonesia juga kaya akan sumber makanan bagi berbagai jenis tanaman dan hewan laut, serta mengandung juga berbagai jenis sumber mineral.
Ragam budaya
“Moii Indie”, negeri Hindia yang cantik, istilah yang populer pada tahun 1930an ini menggambarkan tentang keindahan alam dan budaya Nusantara. Hutan yang lebat, pegunungan yang sejuk, sawah yang luas dengan padinya yang menguning di tuai para petani, adalah pemandangan yang biasa di temui di Nusantara. Keramaian upacara adat di alun-alun kabupaten, ritual pernikahan yang rumit, alunan gamelan Jawa yang mengiringi gemulai para penari, keindahan warna warni yang membuat kita tertidur dengan mimpi manis. Warna warni yang berasal dari berbagai suku bangsa.
Ada lebih dari 300 suku bangsa yang mendiami kepulauan Nusantara. Suku-suku bangsa tersebut tersebar di berbagai pulau dan daerah. Setiap suku-suku bangsa yang mempunyai budayanya sendiri-sendiri.
Istilah suku bangsa sendiri sangat menarik karena kata “suku” berarti kaki dalam Bahasa Jawa. Jika seumpama Bangsa Indonesia adakah tubuh, suku bangsa adalah kakinya. Suku bangsa yang jumlahnya banyak di Indonesia merupakan penopang berdirinya bangsa Indonesia. Jadi suku bangsa tidak bisa dilepaskan dan telah menjadi bagian masyarakat yang posisinya sama dan sejajar. Suku-suku bangsa ini, ada yang menjadi komunitas besar dan dominan, tapi ratusan suku bangsa kecil yang tersebar di pelosok Nusantara. Suku bangsa yang beragam ini tidak jarang masih berada didaerah terpencil dan masih memegang erat tradisinya yang belum tersentuh peradapan modern. Suku Naga di Banten, suku Anak Dalam di Jambi, suku Dani di Papua adalah contoh kecil suku bangsa yang masih sangat tergantung penghidupannya dari alam. Dari sini, suatu suku bangsa menjadi sangat berarti bagi keberadaan keberagaman bangsa Indonesia.
Di daerah dimana suatu suku bangsa tinggal, maka hidup pula di daerah itu bahasa daerah. Bahasa daerah menjadi bahasa pergaulan sehari-hari. Bahasa Indonesia menempati posisi yang penting sebagai produk budaya dalam kaitannya dengan bahasa daerah. Bahasa Indonesia telah menjadi pengejawantahan dari berbagai bahasa daerah dimana bahasa daerah tersebut sampai sekarang masih ada. Bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Penamaan Bahasa Indonesia diawali sejak Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang ada. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.
Produk budaya yang tumbuh berkembang setelah bahasa daerah adalah rumah adat dan pakaian adat. Rumah dan pakaian adat telah menjadi ciri khas daerah tertentu dan menjadi ikon daerah untuk menawarkan potensinya. Keberadaan rumah dan pakaian adat ini menjadi bukti nyata bentuk adaptasi manusia dan lingkungannya.
Ragam seni budaya yang meliputi seni tari, seni musik dan makanan khas daerah, biasanya ditampilkan dalam pelaksanaan upacara adat. Upacara adat Dayak Ritual Tiwah, yaitu upacara untuk menghantarkan roh leluhur sanak saudara yang telah meninggal dunia dengan cara menyucikan dan memindahakan sisa jasad dari liang kubur ke suatu tempat. Pasola Sumba adalah upacara adat yang dilakukan suku Sumba untuk memohon kepada Tuhan agar diberi limbahan hasil panen yang baik. Upacara adat ini, dilakukan dengan perang-perangan oleh dua kelompok berkuda yang bersenjatakan tombak. Upacara adat ngaben di Bali, prosesi pembakaran mayat. Ada Sekatenan di Yogyakarta dengan gunungan yang berisi makanan dan buah-buahan yang ditata selayaknya gunung, dan diperebutkan oleh warga masyarakat. Bagi mereka yang percaya bahwa dengan dapat memakan makanan dari gunungan tersebut akan mendapatkan berkah. Upacara-upacara adat yang ada dan dilaksanakan oleh suatu daerah telah menjadi budaya yang dilestarikan.
Cerita hidup dari masa ke masa
Cerita hidup di Nusantara diawali oleh sejarah peradapan yang pernah ada dan dapat di baca dan dipelajari dari bukti-bukti peninggalan yang ada.
Semuanya berawal dari masa prasejarah yang jejaknya masih ada sampai sekarang. Meski masih gelap, tapi jejak jejak yang berupa fosil yang di temukan di Mojokerto, Kedungtrubus, Trinil, Sangiran, Sam- bungmacan, dan Ngandong adalah bukti bahwa mereka pernah ada dan hidup di bumi Nusantara.
Zaman kerajaan Hindu Budha adalah masa kejayaan Nusantara yang gilang gemilang. Jejak meraka masih jelas terbaca lewat relief candi-candi yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik. Borobudur, Prambanan dan Sukuh adalah sebagian candi-candi peninggalan kerajaan Hindu Budha. Sutasoma dan Negarakertagama adalah kitab-kitab yang menceritakan kejayaan pada masa itu.
Kerajaan Islam yang di antaranya: Kerajaan Samudera Pasai, Kesultanan Banten , Kerajaan Mataram, Kerajaan Iha, Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore di Maluku, hadir setelah runtuhnya masa kerajaan Hindu Budha. Pada masa Kerajaan Demak penyebaran agama Islam terutama di pulau Jawa tidak bisa dilepaskan dari peranan Wali Songo. Wali Songo merupakan utusan dari kerajaan Turki yang waktu itu rajanya melihat minimnya orang di Jawa yang beragama Islam, maka raja tersebut mengutus sembilan orang ahli agama untuk menyebarkan agama Islam.
Runtuhnya kerajaan-kerajaan Islam secara langsung maupun tidak langsung sangat dipengaruhi oleh kedatangan orang-orang Eropa melalui pelayaran. Bangsa Portugis yang pertama kali mendarat di Maluku. Dari orang-orang Portugis inilah maka Nusantara dikenal oleh orang Eropa. Rempah-rempah yang menjadi komoditi yang sangat dibutuhkan membuat kawasan Nusantara menjadi wilayah penting bagi bangsa-bangsa yang melakukan perdagangan dan berakhir dengan kolonialisasi. Setelah Portugis, ada bangsa Spanyol yang menguasai kawasan Nusantara dan kemudian dilanjutkan oleh bangsa Belanda yang menguasai Nusantara dengan VOC nya.
Perang Dunia II yang diawali bulan Mei 1940 membawa perubahan besar bagi perjalanan Nusantara. Penetrasi bangsa Jepang dan kekalahan Belanda oleh Jerman membawa imbas pengaruh Belanda terhadap bumi Nusantara semakin lemah. Setelah kurang lebih 3 tahun Jepang berada di Indonesia, Jepang mulai mengalamai banyak kekalahan dalam perang dunia II, apalagi setelah dijatuhi bom atom oleh Amerika. Bangsa Indonesia memproklamsikan kemerdekaanya yang telah di perjuangkan bertahun-tahun lamanya.
Sejarah peradapan yang ada di Nusantara tidah terlepas dari orang-orang yang mengalaminya. Sampai saat ini sejarah perjalanan bangsa telah menjadi hal penting dalam membuat bangsa Indonesia menjadi seperti saat ini. Sejarah yang berisi cerita hidup seperti perjuangan, telah menjadi kebangggan tersendiri dan menjadi semangat untuk menghadapi masa yang akan datang.
Orang-orang jawa yang sudah tua, mereka adalah saksi hidup yang mengalami sejarah perjalanan bangsa. Mereka yang lahir di jaman penjajahan belanda, melewati masa anak-anak di Zaman Jepang, menuntut ilmu di orde lama, bekerja di orde baru dan pensiun di era reformasi. Orang-orang ini mempunyai cerita hidup yang beragam dan dapat diambil informasinya sebagai pembelajaran.
Cinta kepulaauanku, Indonesia
Perjalanan manusia baik sendiri maupun berkelompok dengan berbagai tujuan, dilakukan dengan damai, bebas dan sukarela, tapi tidak dengan tujuan mencari nafkah ataupun menetap, saat ini banyak yang melakukan. Perjalanan manusia yang dilakukan untuk mengetahui, belajar, dan mengalami secara langsung yang belum pernah dia alami, perjalanan yang dilakukan untuk mencari keindahan alam dan budaya. Perjalanan-perjalanan seperti ini, untuk memupuk rasa cinta kepada negeri dan memenuhi kebutuhan rohani. Perjalanan seperti ini, biasanya disebut pariwisata.
Nusantara, dengan bentangan alam yang kaya akan keindahan menjadi muara bagi setiap-setiap perjalanan. Gunung yang megah dengan hawanya yang dingin segar adalah obat alam yang menyehatkan. Semeru di Jawa Timur, Rinjani di Lombok, Merapi di Yogyakarta adalah gunung-gunung yang dengan sunyi senyap akan meramaikan gejolak rasa. Gunung yang terjal dan berliku yang membuat kita ingin terus mendaki. Perjalanan ke area pegunungan selain untuk mendaki, juga ada kawasan-kawasan wisata alam yang berada di sekitar gunung-gunung tersebut.
Dengan garis pantai sepanjang 95.000an kilometer, Indonesia merupakan negara dengan garis pantai terpanjang keempat didunia. Potensi alam pantai yang membentang dari Sabang sampai Merauke, jika dimanfaatkan dengan baik akan menjadi tujuan dari sebuah perjalanan manusia. Pantai pasir putih dengan jingga matahari tenggelamnya, terumpu karang yang menyimpan keindahan alam bawah laut adalah tempat-tempat yang diciptakan Tuhan dengan keindahan. Pemandangan alam yang indah menggugah jiwa-jiwa romantis, candi-candi dengan ikonografi yang bercerita tentang masa lampau menghadirkan de javu yang tak habis-habisnya.
Menyaksikan karapan sapi di Madura sebagai tradisi lokal atau menyaksikan sendratari ramayana di candi Prambanan, menyantap lumpia basah di Semarang, jika hal ini dilakukan baik sendiri ataupun dengan seorang kawan, akan sangat terkesan.
Bercermin pada kejernihan air Danau Toba, mencuci muka di Rawa Pening Semarang atau sekedar mandi air dingin Grojokan sewu di lereng Gunung Lawu adalah pengalaman yang tak akan terlupa.
Bahwa keindahan alam dan keanekaragaman budaya telah menjadi daya tarik bangsa-bangsa lain untuk singgah di Indonesia. Perjalanan bangsa ini, dalam mencari jatidirinya melalui perjuangan yang terungkap dari cerita hidup orang-oarang pada zamannya, adalah aset berharga untuk dapat terus membangun sebuah bangsa dengan kejayaanya. Bentangan alam, ragam budaya, cerita hidup adalah potensi untuk menarik para pelancong untuk melakukan perjalanan keliling Indonesia.
Bila anda menemukan sebuah tempat yang segalanya begitu indah, itulah Nusantara, kepulauanku tercinta.
Waryoto