Masalah dalam Sejarah Islam

Bookmark and Share


Izinkanlah untuk sedikit berbagi. Berkaitan dengan sejarah Islam, khususnya sejarah Rasulullah saw. Yang pertama berkaitan dengan riwayat-riwayat dari Khadijah dan Ahlulbait. Dalam sejarah diketahui selama 25 tahun Rasulullah saw hidup bersama Khadijah mengarungi bahtera rumah tangga.
Kehidupan Nabi bersama Khadijah seharusnya banyak meninggalkan informasi tentang rumah tangga, cara mendidik anak, dan urusan keluarga. Begitu juga riwayat kehidupan Rasulullah saw bersama Ahlulbait (Sayidah Fathimah, Ali bin Abi Thalib, dan cucu Rasulullah saw: Imam Hasan, Imam Husain, dan Sayidah Zainab) seharusnya menjadi hadis atau sumber-sumber yang berkaitan dengan Rasulullah saw. Anehnya, dalam buku-buku agama khususnya hadis sangat jarang kita temukan hadis atau riwayat dari Ahlulbait?
Ke mana larinya hadis dan riwayat mereka? Bukankah kehidupan rumah tangga Sang Nabi tidak hanya berhubungan dengan Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar bin Khaththab, atau Zainab binti Jahsyi?
Bukankah Khadijah dan Ahlulbait dalam keseharian senantiasa bersama Rasulullah saw dan paling lama mendampinginya dibandingkan para istri Nabi lainnya atau sahabat-sahabat?
Persoalan di atas belum ada yang mengkajinya secara khusus. Mungkin para ahli hadis dan sejarawan kontemporer harus memulainya untuk membongkarnya sehingga nilai-nilai Islami dan sejerah Islam bebas dari penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang hendak menghilangkan data-data sejarah.
Bahkan yang menyedihkan, ada buku di Indonesia yang menyebutkan informasi sejarah yang berulang-ulang. Buku ini berjudul Muhammad sang Kekasih dan Rumah Cinta Rasulullah yang ditulis oleh Ahmad Rofi Utsmani dan diterbitkan Mizan Pustaka, Bandung. Dua buku tersebut memuat perjalanan kehidupan Sang Nabi. Namun, ketika membaca bagian Khadijah tidak ditemukan hadis-hadis yang berasal dari Khadijah. Sejarah ditulis memang tidak lepas dari kepentingan dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Mengapa para muhadis dan sejarawan tidak memuatnya? Kemungkinan karena alasan perbedaan mazhab dan politik serta dalam sejarah Islam disebutkan para ulama yang menulis karena permintaan dari penguasa. Apabila tidak sesuai dengan pesanan sudah pasti hukuman keras yang akan menimpanya.
Tentang Hijrah
Yang kedua tentang hijrah dan penentuan 1 Muharam sebagai tahun baru Islam. Sejarah mengisahkan masa hijrah Rasulullah saw oleh Umar bin Khaththab ijadikan penentuan kalender atau tahun Islam yang disebut Tahun Hijriah.
Menurut Dr.Muhsin Labib, Rahasia hari dan Primbon Islam (Jakarta: Zahra, 2010) halaman 23 bahwa penentuan 1 Hijriah ini dilakukan enam tahun setelah Nabi Muhammad saw wafat atau masa Umar bin Khaththab berkuasa di Madinah berdasarkan wasiat Abu Bakar selaku penguasa pertama setelah Rasulullah saw.
Entah apa yang menjadi dasar utama dari menetapkan tanggal 1 dan awal bulannya yang jatuh pada Muharam?. Kalau melihat fakta sejarah, terjadinya hijrah Nabi berlangsung pada awal Rabiul Awwal. Semua sejarawan sepakat, bahkan Muhammad Husain Haekal dari pengikut mazhab Sunni, menyebutkan sekira dua minggu perjalanan Nabi sampai ke Madinah yang tiba di Madinah 12 Rabiul Awwal.
Yang menjadi pertanyaan: mengapa tidak dipilih tanggal dan bulan Rabiul Awwal sebagai awal tahun baru Islam atau Hijriah? Jawaban ini belum saya dapatkan dalam bacaan atas buku-buku sejarah sehingga umat Islam yang tak mengenal sejarah menyangka peristiwa hijrah Nabi ke Madinah pada 1 Muharram.
Ahmad S